NIKKAPALA tumbuh perlahan tanpa riuh, terbentuk dari bisikan kecil dari jiwa-jiwa yang haus akan kebebasan.
Sekelompok pemuda mahasiswa politeknik perkapaln negeri Surabaya, yang kala itu berhimpun dalam P3ITS menjadikan gunung sebagai ruang pelarian sekaligus perenungan.
Di sela padatnya hari-hari yang terikat aturan, mereka menemukan arti hidup dalam langkah yang menanjak dan dalam lelah yang justru menguatkan.
Perjalanan-perjalanan itulah tumbuh benih keberanian sebuah kecambah kesadaran bahwa alam tidak hanya sebagai tempat singgah melainkan rumah untuk memahati arti keberanian, kebanggaan, dan kekeluargaan.
Sebuah kisah besar tumbuh dari berbagai rintangan yang berat, keinginan mereka untuk berdiri menjadi organisasi tak serta merta diterima, banyak perdebatan dan penolakan menjadikan kegigihan mereka untuk tetap berjuang.
Mereka dianggap hanya pelaku petualangan tanpa arah, tetapi waktu membuktikan sebaliknya, mereka membawa bukti bahwa keberanian mampu melahirkan kebanggaan.
Juli 1990 (1 Suro 1923), di antara kabut dan sunyi pegunungan Arjuno Welirang lahirlah nama itu, NIKKAPALA diikuti oleh 3 angkatan (1987,1988, 1989) dan disematkannya scraft bewarna orange dengan penuh kebanggaan.
Sebuah nama yang lahir dari perjuangan, gagasan, perdebatan, dan harapan yang disatukan.
Bendera orange pun terentang dengan lukisan gunung, garis kehidupan, dan tunas kecambah yang sederhana namun penuh makna.
Di bawah langit yang luas NIKKAPALA terbentuk bukan hanya sebagai pecinta alam, tetapi sebagai penjaga nilai tentang kerendahan hati, keberanian hidup, persahabatan, dan tanggung jawab pada alam serta sesama.
Peresmian itu adalah awal perjalanan panjang yang berdenyut dalam setiap langkah anggotanya.
Dari puncak ke puncak, dari jawa timue hingga melintasi pulau, NIKKAPALA membawa namanya bagaikan nyala api yang tak pernah padam.
NIKKAPALA bukankan hanya Sejarah yang dikenang, melainkan denyut yang terus hidup.
Ia adalah kecambah yang tak pernah berhenti tumbuh dan dapat tumbuh dimanapun mereka berada meski diterpa zaman, berganti generasi.
Seiring berjalannya waktu, Nikkapala mulai menumbuhkan cabang-cabang pengabdian.
Lahirlah enam divisi yang menjadi sebuah perjalanan mereka, gunung dan rimba yang berani melangkah menerpa lebatnya hutan dan kabut, rock climbing yang menantang tebing dan ketinggian, caving yang menyusuri gelapnya goa demi menemukan cahaya, konservasi sumber daya alam yang menumbuhkan kesadaran kita menjaga alam, olahraga arus deras yang membangun keberanian menghadapi derasnya arus, dan diving yang memberikan ketenangan yang penuh makna dalam kedalaman.
Keenamnya bukan hanya sekedar bidang, melainkan wajah-wajah berbeda dari satu jiwa yang sama, jiwa kebebasan yang terus bergerak, belajar, dan mencintai alam tanpa henti.
Nia Nikk. 31240789